WELCOME TO BLOG

Khastury_chains Islam

Selamat membaca ilmu Islam


cerita pangalaman

Aku Ingin Jadi Anak Sholehah Saja


Namanya juga sahabat. Ia pasti akan datang dan pergi pada waktu yang tak pernah bisa ditentukan oleh siapapun. Begitulah aku dengan Ani. Sahabat yang pernah mengukir sejarah pahit dimasa kecilku. Dari tangannya kepala dan keningku penuh ukiran bekas luka. Ya, ketika kecil ia sering mengakhiri canda dan ketidaksukaanya terhadap ulahku dengan melemparkan sebuah batu.

Dan aku selalu tak pernah bisa mengelak dari lemparan itu. Batu-batu yang terserang di kepalaku berbuah darah, luka, dan tangisan. Itulah akhir dari setiap kali pertemuanku dengan Ani, karena ulahnya main lempar batu itu. Tapi tetap saja kemudian aku akur kembali dan bermain lagi dengannya, meski kemudian ia melempariku lagi dengan batu. Itulah Ani dan ituah aku.

Tapi kemudian, aku tak pernah lagi bertemu dia lagi selama 6 tahun. Dan tak pernah lagi ada pertengkaran. Dan tidak pernah ada lagi canda berbuah lempar batu.

Pertengkaran dengan Ani seringkali bermulai siang hari usai shalat dhuhur. Ketika kami selalu berdebat caranya melaksanakan sembahyang. Waktu ia sembahyang menoleh ke kiri-kanan. Aku tidak setuju. Karena kata mamahku, tidak boleh menoleh kiri-kanan. Karena itu membatalkan sembahyang.

“Caranya sembayangmu salah, kalau sembayang kata mamahku tidak boleh menoleh kiri-kanan!”

“Tapi kata ibuku boleh, karena kita masih kecil” Ia membantah kritikku

“Nggak boleh, karena itu dosa.”

“Kata ibuku anak kecil belum mendapat ganjaran dosa.”

“Bohong! Semua orang pasti dapat dosa kalau salah.”

“Tapi kata ibuku tidak!”

“berarti ibumu salah!” kataku. Tentu saja ia tidak terima. Ia marah. Lalu bilang nama mamahku. Aku bilang nama Ibunya. Kami saling sebut nama ibu dengan emosi. Waktu itu bagi kami menyebut nama orang tua adalah kurang ajar.

Kian lama emosi kami makin meninggi. Lalu mulailah Ani mengambil batu dan aku sudah menebak rencananya. Aku pun lari. Bener saja. Ia kemudian melempariku, aku mencoba mengelak tapi terlambat. Batu itu melayang terlalu cepat. Dan, plethok! Kepalaku terkena batu. Seketika darah mengucur.

Saat itu aku tak bisa melihat Ani. Aku pindah rumah ke Bandung ikut keluaragaku. Aku hanya ingat saat itu aku didekati banyak orang yang menolongku. Menyeka darah dan memberiku obat.

Begitu Ani, hanyalah sahabat yang 6 tahun lalu menghiasi sebagian dari masa kecilku dari sebuah lorong, sebuah perkampungan kecil disolo.

Meski begitu aku tak merasa ada yang hilang ketika ia tidak bersamaku sebagai seorang sahabat. Aku tidak pernah merasa kehilangan sahabat meski ia jauh dariku. Sementara aku hanya di Bandung.

Aku sendiri tak tahu kabarnya dia, semenjak aku tinggal di Bandung. Aku hanya asyik dengan aktifitasku sebagai pelajar. Entahlah, aku juga tak membayangkan sepucuk surat darinya, karena memang aku tak pernah punya niat untuk mengirim surat untuknya.

Tapi ia memang sahabat masa kecilku, yang orang-orang dikampungku tak pernah lupa dengan persahabatan kami. Sehingga setiap kali aku harus pulang, menginjak kaki dikampung halamanku itu, yang disebut pertama kepadaku adalah soal persahabatan dengan Ani. Baru hal-hal lain.

Aku hanya menerimanya sebagai sebuah kenangan masa kecil. Selebihnya aku tidak menanggapinya. Sebab setiap orang itu salalu bercerita tetang Ani yang sekarang ini dapat beasiswa diluar negeri.

“Hebat bener Ani itu, tak terbayangkan kalau semasa kecilnya dengan itu ia sangat nakal dan masa bodoh bisa seberhasil itu,” kata saudaranya yang sering bertemu dengan ku dikampung setiap aku pulang. Tidak hanya saudaranya yang berbicara itu, juga Titik, Ayu, Endah, dan banyak yang lain.

“memangnya Ani kuliah diamana sekarang?” Aku pernah bertanya seperti itu, karena memang tidak tahu pasti kuliahnya Ani.

“Mosok kowe gak ngerti? Kowe lak koncone.” Kata Endah

“Orak, aku ora ngerti tenan.” Kataku meyakinkan

“Oh, tapi aku pun tidak tahu pasti ia kuliah, aku hanya mendengarnya dari orang. Banyak orang katakan kalau teman kamu itu sudah kuliah di Jepang dan mendapat baesiswa dari Pemerintah.” Kata Endah waktu tu beralasan. Karena hingga kini aku belum ketemu Ani.
***

Aku tidak punya pilihan waktu terbaik setiap kali aku mengingat kampungku itu, selalu saja rasa malas menghinggapi hasratku untuk kekampungku.

Bukan karena Ani. Tapi karena nenek dan pamanku. Mereka selalu membandingkan-bandingkan aku dengan Ani. Yang mereka sendiri tidak pernah tahu bagaimana Ani dan seperti apa dia.

“kowe nerokko Ani Kae. Ani iso entuk beasisiswa neng Jepang wis entuk ragat ko negoro” Pamanku seringkali mengatakan hal itu kepadaku, Aku tahu apa yang dimaksudkan pamanku, bahwa ia kepengen keponakanya sukses seperti Ani, tetapi kenapa Ani bisa meperlihatkan kemampuannya kepada keluarganya. Sementara aku tidak?

“Dan apa yang kamu cari dengan kuliahmu?”
Aku tidak menjawabnya. Akhir-akhir ini Pamanku tidak menyukai jurusan yang aku pilih.

***

Aku bertemu dengan Ani. Biasa saja kami bertemu dan saling bercerita. Seperti sahabat lain aku tidak menghabiskan waktu terlalu lama dengannya. Seperti biasa, dua jam aku ditanah kelahiranku, aku kembali di Surabaya tempat aku kuliah.

“Untuk apa kowe pulang?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Yang aku yakin ia pasti mengomentari jawabanku dengan kalimat yang menyudutkan aku. Aku sangat yakin. Makanya aku pergi dan meninggalkannya begitu saja tanpa alasan.

***

Aku pulang lagi tiga pekan kemudian. Aku bertemu dengan Ani. Ia sedang duduk didepan rumahku.

“Masih ingat kamu rupanya dengan kampung ini?” ia melempar pertanyaan yang aku tahu ia menyindir yang jarang pulang. Aku tidak menjawabnya kecuali dengan sebuah senyuman. Aku terus menuju rumah dan kembali beberapa saat kemudian

“Masih dikampung kamu, An?” ia tidak menjawab pertanyaanku. “lama betul kamu cuti kuliahnya?”

Ani tidak menjawab pertanyaanku. Ia mengalihkan pembicaraannya. Ia mengajakku ke masjid Al-Hikmah. Pada saat azan dhuhur sedang berkumandang.

“Kita sembahyang dulu lama kita tak sembahyang bersama! Kamu terlalu sebentar dirumah sehingga tidak banyak yang bisa aku ceritakan,” kata Ani, suaranya melemah.

Kami sembahayang, berdua menjadi jamaah dari iman yang sudah biasa sendiri di masjid. Hari tu tidak ada perdebatan. Sembahyang kami sudah teratur mengikuti imam.

Usai sembayang kami bercerita banyak. Ani bercerita tetang dirinya., tentang ia sewaktu di Jepang mengikuti program beasiswa. “Tapi sekarang dikeluarkan dari kampus. Hingga aku kembali ke kampung, gara-gara……” ia diam sejenak “aku mencuri hp teman!” katanya tertunduk.
Ia mengaku ituah sembahyang yang pertama sejak terakhir sembahyang bersamaku, semasa masih kanak-kanak dulu.

“Aku ingin jadi anak sholehah saja.” Katanya.

Aku Dan Nasibku


Hari ini usiaku bertambah lagi 1 tahun. Kalau dari pandangan mata sebagai muslimah (penganut agama Islam), maka usiaku berkurang 1 tahun dari yang Allah swt tentukan. Sekarang aku berusia 18 tahun. Alhamdulillah, karena mataku masih terbuka, nafasku masih ada untuk mengemban tugas hari ini dari sang pemberi nyawa.

Di usia ini aku ingin menulis tentang pertemuanku dengan Bahasa Jepang. Ini mungkin kesempatan yang baik untuk berbagi cerita kepada teman-teman dimana pun berada.
Mamaku bilang, garis keturunan keluarga kami tidak ada yang cenderung menguasai ilmu pasti seperti fisika, kimia dan biologi. Kebanyakan di bidang sejarah, bahasa dan ilmu diluar ilmu-ilmu pasti. Jadi mamaku merasa aku tetap harus coba ikut ujian di universitas swasta lain, jangan hanya cukup yakin bisa masuk UGM. Tapi saat itu aku tidak terlalu memusingkan kekhawatiran mama. Bila aku bisa duduk dijurusan Sains SMA, itu cukup jadi bukti kalau sebenarnya aku punya kemampuan dibidang 'eksak'.

Respon Ayahku lain lagi. Beliau adalah tipikal ayah yang percaya kepada pilihan anak-anaknya. Papa tidak pernah memaksakan kehendak, mesti jadi apa kelak. Nasehat papa kepada kami yang terus kuingat adalah, “Kamu bebas memilih jalan hidup, tapi bertanggungjawablah terhadap pilihan itu. Tugas orang tua adalah menyediakan fasilitasnya”. Maksudnya kala itu adalah,kalau aku ingin sekolah maka bersekolahnya dengan baik dan sesuai dengan isi hati. Sedangkan tugas ayah dan mama adalah menyediakan dana untuk pendidikan aku. Kata ayah lagi, “menuntut ilmu itu adalah wajib dan merupakan tanda beriman kepada Allah swt”.

Kepercayaan ayah kepada anak-anaknya yang membuat aku semakin 'besar kepala?'.Bukan salah ayah, tapi memang aku adalah tipikal anak yang 'keras hati'. Itu penilaian mama loh. Kekerasan hati inilah yang kelak menjadi bekalku menempuh hidup di Jepang. Ternyata kekerasan hatiku, keseriusan diriku belajar untuk jadi dokter, tidak cukup untuk membuktikan bahwa aku mampu lulus Ujian. Namaku tidak tertera sebagai peserta yang lulus ujian.

Semua kekerasan hatiku menjadi lelehan air mata, segukan demi segukan tangisan memenuhi isi kamarku.Kesombonganku untuk tidak mendaftar ikut ujian di universitas swasta tinggal jadi penyesalan. Aku pontang panting mendaftar ke berbagai tempat, tapi semua sudah telat. Rasanya aku adalah anak yang paling malang didunia. Harga diriku terbanting. Aku tak punya wajah untuk diperlihatkan kepada teman-teman se-SMA,teman-teman sepermaian, terutama kepada kakak dan adikku.

Mama memang benar. Aku malu hati. Hanya elusan tangan ayah dan mama di kepalaku ketika isakan tangis tak jua reda yang jadi sandaran tulang punggungku yang terasa sudah lunglai. Ayah tidak bersuara, mama tidak marah, beliau berdua tidak mengomel. Tidak mengatakan apa-apa, tapi mengajakku mencari informasi program kuliah apa saja di luar sana. Akhirnya aku memilih ilmu manajemen keuangan, bahasa inggris dan akuntansi di salah satu lembaga pendidikan diploma satu.Inilah awal sayap di punggungku berkembang.

Satu tahun ku lalui dengan menyenangkan. Isi kelasku hanya 12 orang.Salah satu dari temanku adalah anak seorang pengusaha kaya di Indonesia. Siapa yang menyangka, bahwa ilmu-ilmu ini akan muncul kembali mewarnai kehidupanku kelak. Menjelang lulus, mama bertanya lagi...berikutnya aku mau bagaimana?.Aku masih ingin kuliah, karena dengan ilmu yang sedang kutempuh itu pasti tidak cukup untuk mencari kerja. Jadi aku tidak mau 'setengah-setengah'. Berilmu pun tidak, mau coba-coba ujian yang sama. Hidup itu harus punya tujuan.

Akhirnya aku memutuskan untuk memilih jurusan bahasa. Mungkin teori mama tentang kemampuan keluargaku harus dipertimbangkan. Lagi pula setelah melewati 3/4 tahun di program diploma I itu, aku baru sadar dan punya 'feeling' bahwa dunia bahasa akan lebih menyenangkan.

'Mau jadi apa nanti dengan belajar Bahasa Jepang?'. Lagi-lagi mama gelisah denganpilihanku. Tapi, lagi-lagi aku merasa yakin dengan pilihanku. Alasannya gampang,yakni rasanya keren kalau membaca buku bertuliskan huruf aneh di angkot. Kalau bacabuku bertuliskan 'how are you', 'my name is...' di dalam angkot, lalu orang yang duduk di sebelah melongok buku yang kubaca, pasti tidak ada kesan hebat. Nah, sekarang bayangkan kalau yang aku baca itu buku dengan huruf-huruf yang tidak bisa dibaca oleh orang lain.Pasti orang-orang akan terkesan!!. Hehehehhe....membayangkannya saja sudah membuatku melayang-layang seperti burung. Hidungku sudah mengembang...
Dan ada!!...kutunjukkan kepada mama, sambil merasa sayap di punggungku berkibar-kibar mengangkat tubuhku dari pijakan bumi. Respon seluruh keluarga tidaklah buruk.Tapi juga tidak terlalu menggembirakan. Aku yakin semuanya berusaha sensitif dengan kegembiraanku. Padahal mungkin biasa-biasa aja. Mungkin di kepala mama, adalah bagaimana setelah lulus aku nanti. Kala itu Bahasa Jepang tidak terlalu 'bergema' di tanah air. Pilihanku tidak salah. Belajar Bahasa Jepang itu menarik. Menarik sekali. Kalau di diploma tiga tidak terlalu belajar ke-sastra-an, tapi lebih ke ilmu praktis. Buat aku dan teman-teman yang belajar Bahasa Jepang, adalah kesempatan untuk melatih kosa kata yang kamipelajari. Waktu itu drama Jepang tidak di-dubbing ke Bahasa Indonesia-seperti sekarang.Di kampusku sendiri, mahasiswa jurusan Bahasa Jepang jadi pusat perhatian.

Sekarang aku begitu merasakan manfaat dari ilmu yang kukuasai. Bahwa ilmu bahasa asing yang kusandang bisa menjadi 'jendela' untuk melihat dunia luar.Aku bisa datang ke Jepang, bisa beradaptasi dengan orang Jepang, bisa menjadi sumber penghasilan,bahkan sudah bisa mengajar pula untuk orang lain.

Tapi untuk menguasai sebuah ilmu bahasa seperti yang aku miliki saat ini bukanlah pekerjaan mudah.Sangat menguras tenaga dan pikiran. Juga memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk panen.Tak terasa sudah 13 tahun lebih aku berkecimpung dengan Bahasa Jepang. Banyak 'hasil panen' yang kunikmati saat ini. Mamaku pun sekarang menjadi fans setiaku apabila ada anak muda yang mengutarakan niatnya ingin belajar Bahasa Jepang kepadaku. 'Biar bisa seperti Teh Novi', begitu mama selalu membanggakan diriku. Kunci untuk menguasai bahasa asing adalah latihan, latihan, latihan. Selain itu kalau memungkinkan adalah belajar ke luar negeri, tempat asal mula bahasa asing yang kita pelajari itu. Mungkin seumur hidup aku akan berlatih untuk mengasah ilmuku ini lewat berbagai cara. Aku ingin ilmuku tidak berhenti di sini.Aku ingin bisa menyebarkan ilmu yang merupakan amanah dari Allah swt ini.Agar banyak generasi muda di tanah air bisa melihat dunia lain seperti yang aku alami sekarang.

Belajar sebuah ilmu bahasa bukanlah pilihan yang buruk. Percayalah, bahwa ilmu bahasa, apapun itu jenisnya adalah penting buat hidup kita.Orang lain sering cemburu dengan kemampuan bahasa Jepangku. Berbahagialah kaum muda yang memiliki kemampuan berbahasa asing, dan juga yang berkecimpung dalam dunia editing di tanah air. Begitu banyak buku-buku asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa kita lalu di edit dengan baik. Semua itu tak lain agar siapa pun bisa mengambil makna yang tersurat dalam kalimat-kalimat asing.

Aku masih perlu banyak belajar untuk menguasai Bahasa Jepang. Karena bagiku 'Bahasa adalah Jendela Dunia'.




Kisah ini diambil dari perjuangan kakakku