
Namanya juga sahabat. Ia pasti akan datang dan pergi pada waktu yang tak pernah bisa ditentukan oleh siapapun. Begitulah aku dengan Ani. Sahabat yang pernah mengukir sejarah pahit dimasa kecilku. Dari tangannya kepala dan keningku penuh ukiran bekas luka. Ya, ketika kecil ia sering mengakhiri canda dan ketidaksukaanya terhadap ulahku dengan melemparkan sebuah batu.
Dan aku selalu tak pernah bisa mengelak dari lemparan itu. Batu-batu yang terserang di kepalaku berbuah darah, luka, dan tangisan. Itulah akhir dari setiap kali pertemuanku dengan Ani, karena ulahnya main lempar batu itu. Tapi tetap saja kemudian aku akur kembali dan bermain lagi dengannya, meski kemudian ia melempariku lagi dengan batu. Itulah Ani dan ituah aku.
Tapi kemudian, aku tak pernah lagi bertemu dia lagi selama 6 tahun. Dan tak pernah lagi ada pertengkaran. Dan tidak pernah ada lagi canda berbuah lempar batu.
Pertengkaran dengan Ani seringkali bermulai siang hari usai shalat dhuhur. Ketika kami selalu berdebat caranya melaksanakan sembahyang. Waktu ia sembahyang menoleh ke kiri-kanan. Aku tidak setuju. Karena kata mamahku, tidak boleh menoleh kiri-kanan. Karena itu membatalkan sembahyang.
“Caranya sembayangmu salah, kalau sembayang kata mamahku tidak boleh menoleh kiri-kanan!”
“Tapi kata ibuku boleh, karena kita masih kecil” Ia membantah kritikku
“Nggak boleh, karena itu dosa.”
“Kata ibuku anak kecil belum mendapat ganjaran dosa.”
“Bohong! Semua orang pasti dapat dosa kalau salah.”
“Tapi kata ibuku tidak!”
“berarti ibumu salah!” kataku. Tentu saja ia tidak terima. Ia marah. Lalu bilang nama mamahku. Aku bilang nama Ibunya. Kami saling sebut nama ibu dengan emosi. Waktu itu bagi kami menyebut nama orang tua adalah kurang ajar.
Kian lama emosi kami makin meninggi. Lalu mulailah Ani mengambil batu dan aku sudah menebak rencananya. Aku pun lari. Bener saja. Ia kemudian melempariku, aku mencoba mengelak tapi terlambat. Batu itu melayang terlalu cepat. Dan, plethok! Kepalaku terkena batu. Seketika darah mengucur.
Saat itu aku tak bisa melihat Ani. Aku pindah rumah ke Bandung ikut keluaragaku. Aku hanya ingat saat itu aku didekati banyak orang yang menolongku. Menyeka darah dan memberiku obat.
Begitu Ani, hanyalah sahabat yang 6 tahun lalu menghiasi sebagian dari masa kecilku dari sebuah lorong, sebuah perkampungan kecil disolo.
Meski begitu aku tak merasa ada yang hilang ketika ia tidak bersamaku sebagai seorang sahabat. Aku tidak pernah merasa kehilangan sahabat meski ia jauh dariku. Sementara aku hanya di Bandung.
Aku sendiri tak tahu kabarnya dia, semenjak aku tinggal di Bandung. Aku hanya asyik dengan aktifitasku sebagai pelajar. Entahlah, aku juga tak membayangkan sepucuk surat darinya, karena memang aku tak pernah punya niat untuk mengirim surat untuknya.
Tapi ia memang sahabat masa kecilku, yang orang-orang dikampungku tak pernah lupa dengan persahabatan kami. Sehingga setiap kali aku harus pulang, menginjak kaki dikampung halamanku itu, yang disebut pertama kepadaku adalah soal persahabatan dengan Ani. Baru hal-hal lain.
Aku hanya menerimanya sebagai sebuah kenangan masa kecil. Selebihnya aku tidak menanggapinya. Sebab setiap orang itu salalu bercerita tetang Ani yang sekarang ini dapat beasiswa diluar negeri.
“Hebat bener Ani itu, tak terbayangkan kalau semasa kecilnya dengan itu ia sangat nakal dan masa bodoh bisa seberhasil itu,” kata saudaranya yang sering bertemu dengan ku dikampung setiap aku pulang. Tidak hanya saudaranya yang berbicara itu, juga Titik, Ayu, Endah, dan banyak yang lain.
“memangnya Ani kuliah diamana sekarang?” Aku pernah bertanya seperti itu, karena memang tidak tahu pasti kuliahnya Ani.
“Mosok kowe gak ngerti? Kowe lak koncone.” Kata Endah
“Orak, aku ora ngerti tenan.” Kataku meyakinkan
“Oh, tapi aku pun tidak tahu pasti ia kuliah, aku hanya mendengarnya dari orang. Banyak orang katakan kalau teman kamu itu sudah kuliah di Jepang dan mendapat baesiswa dari Pemerintah.” Kata Endah waktu tu beralasan. Karena hingga kini aku belum ketemu Ani.
***
Aku tidak punya pilihan waktu terbaik setiap kali aku mengingat kampungku itu, selalu saja rasa malas menghinggapi hasratku untuk kekampungku.
Bukan karena Ani. Tapi karena nenek dan pamanku. Mereka selalu membandingkan-bandingkan aku dengan Ani. Yang mereka sendiri tidak pernah tahu bagaimana Ani dan seperti apa dia.
“kowe nerokko Ani Kae. Ani iso entuk beasisiswa neng Jepang wis entuk ragat ko negoro” Pamanku seringkali mengatakan hal itu kepadaku, Aku tahu apa yang dimaksudkan pamanku, bahwa ia kepengen keponakanya sukses seperti Ani, tetapi kenapa Ani bisa meperlihatkan kemampuannya kepada keluarganya. Sementara aku tidak?
“Dan apa yang kamu cari dengan kuliahmu?”
Aku tidak menjawabnya. Akhir-akhir ini Pamanku tidak menyukai jurusan yang aku pilih.
***
Aku bertemu dengan Ani. Biasa saja kami bertemu dan saling bercerita. Seperti sahabat lain aku tidak menghabiskan waktu terlalu lama dengannya. Seperti biasa, dua jam aku ditanah kelahiranku, aku kembali di Surabaya tempat aku kuliah.
“Untuk apa kowe pulang?”
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Yang aku yakin ia pasti mengomentari jawabanku dengan kalimat yang menyudutkan aku. Aku sangat yakin. Makanya aku pergi dan meninggalkannya begitu saja tanpa alasan.
***
Aku pulang lagi tiga pekan kemudian. Aku bertemu dengan Ani. Ia sedang duduk didepan rumahku.
“Masih ingat kamu rupanya dengan kampung ini?” ia melempar pertanyaan yang aku tahu ia menyindir yang jarang pulang. Aku tidak menjawabnya kecuali dengan sebuah senyuman. Aku terus menuju rumah dan kembali beberapa saat kemudian
“Masih dikampung kamu, An?” ia tidak menjawab pertanyaanku. “lama betul kamu cuti kuliahnya?”
Ani tidak menjawab pertanyaanku. Ia mengalihkan pembicaraannya. Ia mengajakku ke masjid Al-Hikmah. Pada saat azan dhuhur sedang berkumandang.
“Kita sembahyang dulu lama kita tak sembahyang bersama! Kamu terlalu sebentar dirumah sehingga tidak banyak yang bisa aku ceritakan,” kata Ani, suaranya melemah.
Kami sembahayang, berdua menjadi jamaah dari iman yang sudah biasa sendiri di masjid. Hari tu tidak ada perdebatan. Sembahyang kami sudah teratur mengikuti imam.
Usai sembayang kami bercerita banyak. Ani bercerita tetang dirinya., tentang ia sewaktu di Jepang mengikuti program beasiswa. “Tapi sekarang dikeluarkan dari kampus. Hingga aku kembali ke kampung, gara-gara……” ia diam sejenak “aku mencuri hp teman!” katanya tertunduk.
Ia mengaku ituah sembahyang yang pertama sejak terakhir sembahyang bersamaku, semasa masih kanak-kanak dulu.
“Aku ingin jadi anak sholehah saja.” Katanya.
