WELCOME TO BLOG

Khastury_chains Islam

Selamat membaca ilmu Islam


cerita pangalaman

Meraih Perjuangan Yang Termahal

Semua manusia adalah bergantung pada diri sendiri, terus berbakal dan seterusnya meneruskan perjuangan. Tanpa rasa bosan untuk memohon kepada Allah agar membeli sedikit persembahan kita.

Bersyukurlah, andai hingga akhir ke hari ini kita masih dipilih sebagai salah seorang dari orang yang berbuat sebagai penolong-penolong agama Allah, tapi adakah kita pasti esok lusa, kita masih berada disini? Allahua’alam.....moga ditetapkan hati ini dijalanMu ya Rabb... Amin.

Adapun jika sepanjang hidup yang lalu terkuras untuk mengejar dunia, tak peduli ajaran-ajaran Allah dan Rasul yang telah di tetapkan. Tak peduli bagaimana agama Allah jadinya hari ini.

Tak peduli kepada saudara-saudara seiman disekeliling pinggang, di seputar daerah dan belahan dunia manapun bagaimana nasibnya.

Sekarang adalah saatnya. Selagi hayat masih dikandung badan. Sebelum berkalang tanah, masih dikubur. Segera sadarkan diri dari kelalaian. Segera pikir, ubah arah dan tujuan hidup sesuai yang Allah inginkan.

Tak kan lupalah asam gandis asam gelugur, ketiga asam riang-riang menangis dipintu kubur, ingatkan badan tak sembahyang. Ingatkan diri tak peduli kehendak Ar-Rohman.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka.

Mereka berperang dijalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah didalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebh menepat janjinya selain daripada Allah?

Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang ruku’ yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan bergembiralah orang-orang mu’min itu.” (At-Taubah: 111-112)

Pelajarilah makna kandungannya, pahami bagaimana transaksinya. Agar nasib diri tak kecewa lantaran Allah tidak memberi diri in surgaNya.

Apa nasib diri bila Allah singkirkan dan tak sudi membela kita. Aduhai malangnya.

Tabung Menabung Menjadi Untung


“Nabung ? Susah, ah! Uang sakuku selalu kuarng.”

Pernah nggak kamu mendengar kalmat seperti tu?

Atau kamu sendiri mengalaminya? Jangan malu!

Susah nabung hampir dirasakan oleh setiap orang.

Tapi, jangan mengeluh, coba cek lagi mungkinada yang salah dalam pengolahan uang sakumu.

Hidup bukan hari ini.

Sobatku. Islam sangat mengedpankan persiapan dalam segala hal. Sesuatu yang tidak ada persiapan yang baik maka hasilnya pasti kurang memuaskan. Begitu juga masalah kebutuhan hdup (sandang, pangan, pendidikan, dll), tentunya nggak bisa sim-salabim ada didepan mata keitika kita membutuhkan. Harus ada usaha untuk mendapatkannya. Nah repotnya, seringkali kita tidak memenej dengan baik semua kebutuhan dan uang saku kita, sehingga yang terjadi adalah lebih besar pasak daripada tiang. Pas pengen les nggak ada uang, pas butuh buku , atau ketika membeli peralatan sekolah yang imut, uang saku dah cekak. Yah ortu lagi, deh. Gimana solusinya??

Nabung! Yup, itulah sunnah Rasulullah yang seringkal kita abaikan. Jangan pernah berpikir bahwa nabung menabung hanya bsa kita lakukan jika pendapatan kita lebih besar dari sekarang. Tidak seorangpun bisa punya tabungan gede hanya karena sudah bekerja atau mendapat uang paling banyak. Tabungan bisa menjadi kenyataan jika kamu konstiten menyisikan uang setiap pekan atau tiap bulan, atau dengan cara memutarnya menjadi bisnis yang menguntungkan.

Sebagai orang muda kita harus bisa melatih diri untuk menjadi pribadi yang berpikir jauh kedepan, jangan berpikir cetek. Nah, dengan menabung berarti telah berpikir visioner, kita sudah bisa mempersiapkan masa depan yng menguntungkan, daripada bertindak dem kesenangan hari ini saja.


Untuk Banyak Dengan Menabung.

Menabung akan mencegah diri dan tindakan konsumtif atau mubazir yang kata Allah jadi temanya setan (Al-Israf: 27, Al-A’raf:31). Coba deh mulai belajar untuk kita tidak bergiur dengan barang yang kita inginkan, pilih yang paling kita butuhkan saja. Jangan percaya sama diskon gedhe, kalau tetap membeli padahal tidak membutuhkan barang tersebut, tetap saja kamu tidak berhemat. Uang tersebut seharusnya bisa kamu simpan untuk keperluan mendadak.

Sesuai dengan sunnah Rasulullah: “ Simpanlah sebagai hartamu untuk kebaikan masa depan, karena itu jauh lebih baik bagimu.” ( HR. Bukhari)

Menyimpan sebagai rejeki juga bukan berarti kita jadi medit alas pelit. Orang yang punya tabungan dapat melakukan banyak hal daripada yang tidak punya simpanan dana. Kalau kamu biasa berhemat karena Allah, maka sedekahmu untuk orang yang membutuhkan bisa lebih besar (Al-Fur’qan:67). Kamu juga bisa membayar kebutuhan sekolah atau kursu tanpa tergantungan sama ortu. Dengan menabung kamu juga bisa mempunyai modal untuk usaha kecil-kecilan. Dan yang lebih asyik, modal nikah juga nggak akan bikin pusing karena sudah dicicil jauh-jauh hari.


Tujuan Keuangan

Walau belum punya penghasilan sendiri, tapi biasanya kamu selalu mendapatkan uang saku dari ortu secara harian, mingguan atau bulanan, kan? So, gimana memulai untuk menabung? Pertama kamu harus bisa menentukan kebutuhanmu dimasa yang akan datang (ini namanya tujuan keuangan). Apakah kamu pingin kuliah di universitas dambaan, kursus bahasa asing, modal usaha ketika lulus sekolah, atau langsung merried?

Secara sederhana, kamu bisa menentukan tujuan keuanganmu menjadi tujuan jangka panjang, jangka pendek, dan menentukan berapa besar besar tabungan yang harus kamu capai sehingga tujuan tadi tercapai.

Misalnya kamu punya tujuan jangka panjang masuk univeritas dambaan yang uang pangkalnya mnimal 5juta, sedangkan ortu hanya mampu membayar setengahnya. Berarti dalam jangka waktu 3tahun sekolah kamu harus menabung Rp 100,000 setiap bulan. “wuich gedhe banget?”

Jangan ngeri duluan! Disini kamu bisa memulai tujuan jangka pendek. Kamu harus cari jalan agar kamu bisa menabung sebesar itu tiap bulan. Menjual fotokopian ringkasan pas ujian yang malas nyatet, jual makanan kecil dikelas atau titip dikantin, mengirim tulisan media dengan terlebih dahulu mempelajari karya penulis lain jual sarung handphone yang lucu atau kerajianan tangan lainnya bisa kamu lakoni untuk menambah setoran.

Tapi, jika dirasakan target tersebut masih terlalu besar, kamu bisa memangkas tabungan menjadi Rp. 30,000 perbulan, dengan konsep konsekwensi universitas yang kamu pilih lebih terjangkau uang pangkalnya. Atau tabungan tersebut bisa untuk kursus ketrampilan saja, sehingga setelah selesai kursu kamu bisa membuka bisnis atau bekerja sesuai ketrampilanmu. Ketika bekerja tentunya kamu dapat memulai menabung yang lebih besar untuk biaya kuliah.


Strategi Menabung

Pertama jadi kebiasan. Berapapun minimal uang yang kamu sisihkan, ciptakan menabung sebagai kebiasa yang kamu perioritaskan. Jadikan menabung sebagai pengeluaran sama seperti jajan, fotocopy, transfer atau beli pulsa.

Kedua, sisihkan minimal 10%. Ingat sisihkan dulu sebelum kamu membelanjakan uang yang baru diterima, jangan menunggu sisa uang baru menabung.

Ketiga, tingkatkan pendapat dan tekan pengeluaran. Meningkatkan pendapatan artinya jangan mengandalkan dana rutin dari ortu, cari peluang yang bisa menghasilkan dana. Seiringan dari itu tekan pengeluaran, diantaranya dengan terbiasa mencatat pelajaran sendiri bukan memfotocopy, pinjam buku kakak kelas atau diperpus, datanglah lebih pagi biar bisa jalan kaki kesekolah, bawa bekal dari rumah, jangan konsumtif pada pernak-pernik yang lucu dan sebagainya.

Keempat, menabung gaya jimpitan biasakan membayar uang dengan kertas. Jika ada kembalian recehan segera masukan kedalam celengan. Jangan membobok celengan sebelum penuh.

Kelima, tabungan kalender. Jika sekarang tanggal 1 bisa menabung Rp. 1000 ditanggal 2 kamu tabung Rp. 2000 ketika kamu tanggal 12 kamu tabung Rp. 12000 begitu seharusnya. Besar uang yang ditabung sesuai angka pada tanggal tersebut. Nominal awalnya biasa kamu rubah menjadi Rp 10,000 atau sesuai dengan keuanganmu.

Keenam, menabung di bank. Tiap bulan langsung sisihkan uang sakumu untuk ditabung ke bank syariah supaya uangmu makin berkah bertambah bagi hasil. Kamu juga bisa menyetorkan uang jimpitan uang belanja atau tabungan kalender tiap akhir bulan ke rekeningmu. Tapi, jangan sering melirik-lirik saldo akhirnya lho! Ntar jadi pingin ngambil dech!

Nah, sahabatku. Jagan tunda lagi mulailah menabung sekarang. Tidak orang yang terlalu tua atau terlalu muda untuk memulai menabung. Tapi jangan lupa rutin juga berinfak dan berdo’a agar rezeki kita semakin dimudah oleh Allah.

USIA SENJA


Setiap insan pasti akan hilang segenap kekuatan yang pernah ada secara perlahan-lahan. Diri terpaksa akur dengan fitnah yang akan merengut tulang menjadi rapuh, darah daging sudah tidak sesegar dulu lagi. Manakala rambut pula memutih dan kulit menjadi kering. Semuanya tidak lagi cantik dan menarik.

Begitulah bekas hasil perjuangan hidup. Perjuangan untuk membuktikan diri adalah hamba Allah yang berjaya. Adakah bekas sujud masih kelihatan? Tujuh anggota badan masihkah dapat bertahan dalam menikmati rakaat yang panjang? Apakah kedua itu masih berminat kepada Al-Qur’an? Bukankah Al-Qur’an berisi kalimah cinta Allah kepada hambaNya?

Biarlah segala-galanya hilang, tua, lemah, dan tidak berdaya. Jika diri bertemu Allah nanti, saat sakaratul maut datang menjemput, katakanlah dengan bangga kapada yang dikasihi: “Ya Allah, saksikanlah tubuh kurusku yang berpenyakit, mata rabunku, tulangku, daran dan dagingku semuanya aku persembahkan kepadaMu, Ya Allah. Bangkitkan mereka pada hari kiamat nanti dengan bekas perjuangan pada jalanMu.”

Mengapa harus bersedih pada dipenghujung usia? Mengapa harus melayang perasaan semakin membuat diri pikun. Bukankah belantara ilmu masih dijelajahi semuanya?

Ada Al-Qur’an dan masjid tempat mengistirahatkan hati yang lara dikala senja usia. Generasi muda memerlukan bimbingan. Mengapa biarkan diri lena tenggelam menunggu ajal yang mendekat.

Umat perlu islah, revolusi akidah, ibadah dan akhlak. Masyarakat masih sakit dengan keruntuhan moral dan kejahatan. Agama ini belum menang! Sesungguhnya tiada kata istirahat didunia ini. Selagi ajal belum sampai, perjuangan untuk membuktikan cinta kepada Allah mesti diteruskan. Tak ada istilah pensiun dalam perjuangan.

Istirhat dan kesenangan itu hanya ketika berada disyurga kelak. Dunia ini adalah tempat berjuang sampai diri terkoban karenaNya. Hidup biarlah mulia, mati biarlah mulia

Masa yang berlalu begitu berharga demi menolong agama Allah ini. Terus beramal, berjuang, ibadah dan muamalah sesama insan. Sampai Allah sudi menerima kita sebagai hambaNya yang teruji.

JIKA DITANYA ALLAH



Pada suatu hari, sebuah rumah dipinggir kampung terbakar. Seekor burung ppit membawa air menggunakan sayapnya. Seorang pemuda heran melihat burung itu berulang –alik membantu memadamkan kebakaran.

Pemuda : “Wahai burung pipit. Mengapakah engkau berulang-alik membawa air?”

Burung : “Saya ingin membantu memadamkan api yang sedang marak.”

Pemuda : “Tapi, tidaklah kau tahu bahwa sayap kau hanya mampu membawa dua titis air saja?”

Burung : “Saya tahu.”

Pemuda : “Tahukah kau bahwa titisan air yang kau bawa itu tak kan dapat memadamkan kebakaran itu?”

Burung : “Saya tahu wahai pemuda.”

Pemuda : “Tetapi mengapa kau masih berterusan berbuat begitu?”

Burung : “sesungguhnya apabila Allah bertanya apakah saya melihat atau tidak kebakaran itu, saya akan jawab bahwa saya melihat kebakaran itu. Dan jika Allah bertanya apakah usaha saya untu membantu. Lalu saya akan menjawab bahwa saya telah untuk membawa titisan air menggunakan sayapku untuk membantu.

TETAP BERJUANG PERTAHANKAN ISLAM SAMPAI MATI


وَلَا تَهِنُواْ فِى ٱبۡتِغَآءِ ٱلۡقَوۡمِ‌ۖ إِن تَكُونُواْ تَأۡلَمُونَ فَإِنَّهُمۡ يَأۡلَمُونَ كَمَا تَأۡلَمُونَ‌ۖ وَتَرۡجُونَ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا يَرۡجُونَ‌ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka. Jika kamu menderita kesakitan, maka sesunggunhnya merekapun menderita kesakitan, sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. (QS. An-Nisa: 104)

Kalau kita lelah dan kesal menghadapi orang afir, ketahuilah bahwa mereka pun juga lelah dan kesal lantaran melihat kenyataan bahwa apa yang mereka kampanyekan dengan susah payah dan susah tidur itu tidak juga menunjukan hasil.

Semakin keras upaya mereka yang menghancurkan Islam, semakin banyak saja orang-orang yang kembali kepada Islam dan konsekuensi dengan syariat.

Bukan hanya kita saja yang berjuang dan berkorban mempertahankan aqidah umat, tetapi mereka juga berkorbann harta dan jiwa raga.

Bedanya, kita berjuang dijalan Allah dan dijanjikan keridhaan serta surgaNya. Sedangkan mereka berjuang di jalan setan, serta dijanjikan murka dan azabNya.

Sesungguhnya pertarungan antara haq dan batil adalah pertarungan abadi hingga akhir kiamat. Telah berlalu para nabi dan rasul sebelum kita. Mereka telah merasakan pahitnya ulah musuh-musuh Allah, tidak sedikit diantara para nabi dan rasul itu yang dilukai, disakiti bahkan dibunuh.

Sekarang pun kta menjadi penerus para nabi dan rasul. Kita bela risalah Islam, kita tegakkan syariah yang mereka ajarkan, kita perjuangkan.


إِن يَمۡسَسۡكُمۡ قَرۡحٌ۬ فَقَدۡ مَسَّ ٱلۡقَوۡمَ قَرۡحٌ۬ مِّثۡلُهُ ۥ‌ۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمۡ شُہَدَآءَ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.

Tuduhan para pendusta, serangan para penjual agama, persengkohan atau konspirasi, Dajjal dan penyesatan, serta berbagai jeratan yang dirancang untuk melawan Islam sesungguhnya tidak akan pernah mampu meraih tujuannya sedikitpun. Bahkan dengan izin Allah, Islam tetap akan menyinari kegelapan dengan cahayanya tidak akan pernah padam selamanya. Walaupun orang kafir tidak suka.

TeguhkanLah

Ya allah dengan rahmatMu, ya Rahiim
Ampuni daku, ku mengintai ketenangan di antara kekealutan karena keinginan tidak pernah kesampaian. Ku kutip sisa-sisa dari segala keruntuhan, bangkit semula meneruskan lagi perjalanan, ku memohon ketabahan karena gelombang hidup dan cobaan menghadang, ku anggap tiada jalan mudah, itu hanyalah suatu kejayaan yang tertunda, kuminta diberikan sejenak kesempatan untuk ku ulang kembali langkah.

Kepayahan yang kurasakan mengajar arti kesabaran, keperihan yang kurasa mengajar arti ketabahan, sungguh insan memerlukanMu Ya Allah, dirimbun keampunan ku mencari keredaan, melerai segala kusut dan kecamuk dijiwa. Ku cari kejernihan di segenap ruang maya, masih ku sadar.

Dengan rahmatMu, dengan kasih sayangMu, ampunil segala dosa-dosa ku ya Allah. Tetepkanlah kami dijalanMu, senantiasa dibawah lindungan inayahMu.

Air Mata

Indahnya kepekatan malam, menguraikan keagungan ciptaan Allah yang Maha Esa, menggamitkan segala rindu yang terpendam jauh dilubuk hati.

Tatkala hati berkata-kata sendiri, ada mutiara mengalir di pipi. Ntah mengapa hilang sudah kesabaran air mata ini untuk bertahan dari menitis. Andai masih ada kekuatan dalam diri, akan ku pendem segalanya sendiri dan biarlah hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Kadang-kala, hati ini bagai diketuk-ketuk dengan sesuatu hingga ianya dibiarkan bicara sendiri.

Selalu ingat pesan sahabat, insan yang selalu menghiburkan hati yang senantiasa menangis sendiri, walau hanya seorang sahabat namun dia selalu memberikan nasehat persis seorang abang yang menuntun langkah adiknya yang baru bertatih.

Kadang-kala biarkan hati berbicara, usah biarkan ianya diam sendiri hingga merusakkan tubuh yang memerlukan sokongan hati. Andai hati selalu mengingatiNya, maka Dia akan selalu ingat pada hambaNya walaupun hambaNya sering melupakaNya. Selangkah kata dekat kepadaNya, 1000 langkah dia hampir kita.

Aku bukan seseorang yang tabah karena air mata mengalir bagaikan tiada arti. Sebenarnya, air mata itu tidak perlu dihabiskan dalam masa sehari. Simpan pula untuk esok, masih ada esok untuk menangisi segala penyesalan kepadaNya, memang indah bila air mata itu mengalir karenaNya tapi usahlah berduka karena mungkin esok, kita akan bertemu kekasih kita (Muhammad S.A.W), menangislah sepuas hati dan biarlah hati berbicara.

Serahkan segala pengaduan kepadaNya. Dia memberikan sesuatu hadiah (masalah/cobaan) untuk memberikan kekuatan kepada kita.

Ya Allah, kiranya Engkau mengetahui hasrat hatiku, perkenankan ia agar hati ini kembali seperti sedia kala, izinkan hambaMu berlabuh ditiraiMu. Bila sesuatu itu datang, ia pasti pergi.

Sahabat jua selalu ingatkan, ''yang hidup pasti mati, yang mati akan dihidupkan kembali. Bila sesuatu musibah itu melanda seseorang, maka Allah lah tempat pengaduan yang paling utama. Dari Allah kita datang dan kepadaNyalah kita akan kembali.''

Biarlah catatan ini terhenti disini, apabila badan itu menderita sakit, maka tidak berguna makanan, minuman, tidur dan istirahat. Demikiam jua pada hati, (apabila telah ditimpa oleh cinta dunia) maka tiap nasehat itu tidak memberikan manfaat kepadanya.

Pembersih Hati Manusia

وَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعً۬ا
"Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah kusyu'." (Q.S. Al-Israa :109)
TANGISAN YANG TAK BISA DIBUAT-BUAT, IA LAHAIR DARI PIKIRAN YANG BERSIH DAN HATI YANG BENING.
Semakin dekat manusia dengan Allah maka makin mudah manusia meneteskan airmatanya. Walau sering matanya sembab berlinang air, genangan air dikelopak matanya pun takkan pernah abis.

Ketika sesuatu terjadi diluar rencana harapan dan keinginan, barulah manusia mengingat-Nya. Sadar bahwa dirinya tak mampu berbuat apa-apa jika Allah SWT. sudah berkehendak. Saat itu manusia biasana menangs. Namun tak lama setelah harapan dan keinginan yang terwujud, ia tertawa dan lupa lai kepada Sang Pemberi harapan.

Biasanya, manusia menangis, melelehkan air matanya tatkala merasa dirinya hancur, tujuan gagal, harapannya tak terkabul, cita dan cintanya berantakan, dan apabila apa yang sudah diupayakan sekuat tenaga seumur hidupnya, menemui kebuntuan.

Menangis adalah cara Dia unuk menunjukan kekuasan dan kemahabesaran-Nya. Airmata itu mungkin saja diciptakan untuk menyadarkan manusia agar senantiasa mengingat Allah SWT. Titik-titik air bening dari mata itu bisa jadi adalah teguran Allah terhadap riak kenistaan yang kerap mewarnai kehidupan ini.

Seperti Allah SWT. menurunkan hujan dari langit mengairi bumi dari kekeringan. Seperti itu juga bisa tangisan manusia, akan membasahi kekeringan hati dan melelehkan kerak kegersangan agar senantiasa menghadiri setiap langkah selanjutnya.

Airmata itu merontokkan bongkah-bongkahan keangkuhan dalam dada sehingga semakin menyadarkan bahwa hanya Dia yang berhak berlaku sombong. Airmata itu akan melelehkan pandangan mata dari menganggap remeh orang lain dan semakin menjernihkan kaca mata untuk lebih bisa melihat kemahabesaran dan kekuasan-Nya. Airmata tu akan membersihkan debu-debu pengingkaran yang menyesaki kelopak mata yang menjadikan sering kali lupa bersyukur atas nikmat-Nya.

Yang baik airmata terus menetes, dengan itu hati semakin basah dengan ketawadhu'an, qona'ah, juga cinta terhadap sesama. Airmata itu akan membasahi setiap relung hati dengan kesadaran bahwa diri pasti akan kembali kepada-Nya. Tiada apa yang patut dibanggakan dari dirinya dihadapan-Nya.

Bersyukur bila hari-hari penuh dengan airmata. Airmata ketakuan akan adzab Allah yang sangat pedih. Air mata yang tak terhenti saat semakin mendekatkan diri dalam do'a, lafadz-lafadz dzikrullah, dan dalam keheningan malam bersamanya.

Air mata ini dapat membuat tersenyum di yaumil akhir kelak. wallahu a'lam bishshawaab.



ثُمَّ قَسَتۡ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعۡدِ ذَٲلِكَ فَهِىَ كَٱلۡحِجَارَةِ أَوۡ أَشَدُّ قَسۡوَةً۬‌ۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلۡحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنۡهُ ٱلۡأَنۡهَـٰرُ‌ۚ وَإِنَّ مِنۡہَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخۡرُجُ مِنۡهُ ٱلۡمَآءُ‌ۚ وَإِنَّ مِنۡہَا لَمَا يَہۡبِطُ مِنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِ‌ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَـٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ (٧٤
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah: 74)


وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِـَٔايَـٰتِ رَبِّهِۦ فَأَعۡرَضَ عَنۡہَا وَنَسِىَ مَا قَدَّمَتۡ يَدَاهُ‌ۚ إِنَّا جَعَلۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ أَڪِنَّةً أَن يَفۡقَهُوهُ وَفِىٓ ءَاذَانِہِمۡ وَقۡرً۬ا‌ۖ وَإِن تَدۡعُهُمۡ إِلَىٱلۡهُدَىٰ فَلَن يَہۡتَدُوٓاْ إِذًا أَبَدً۬ا (٥٧
Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. (Q.S. Al-Kahfi: 57)

قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَخَذَ ٱللَّهُ سَمۡعَكُمۡ وَأَبۡصَـٰرَكُمۡ وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُم مَّنۡ إِلَـٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَأۡتِيكُم بِهِ‌ۗ ٱنظُرۡ ڪَيۡفَ نُصَرِّفُ ٱلۡأَيَـٰتِ ثُمَّ هُمۡ يَصۡدِفُونَ (٤٦
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?" Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (Q.S. Al-An'aam: 46)

فَبِمَا رَحۡمَةٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡ‌ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَ‌ۖ فَٱعۡفُ عَنۡہُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى ٱلۡأَمۡرِ‌ۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.
(Q.S. Al-'Imron: 159)





Walau Hanya Baca Al-Qur'an


Rasulullah telah menyatakan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang makasudnya demikian: "Ada dua golongan manusia yang sungguh-sungguh orang dengki kepadanya, yaitu orang yang diberi Allah Kitab Suci Al-Qur'an ini, dibacanya siang dan malam, dan orang yang dianugrahi Allah kekayaan harta, siang dan malam kekayaan itu digunakannya untuk segala sesuatu yang diridhai Allah."

Di dalam hadist yang lain, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim pula, Rasulullah menyatakan: " Perumpamaan orang mu'min yang tak suka membaca Al-Qur'an adalah seperti buah kurma, baunya tidak begitu harum, tetapi manis rasanya. Orang munafik yang membaca Al-Qur'an ibarat sekuntum bunga, berbau harum tetapi pahit rasanya. Dan orang munafik yanng tidak membaca Al-Qur'an, tak ubahnya seperti buah hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit sekali."

Dalam sebuah hadist, Rasulullah juga menenrangkan bagaimana besarnya rahmat terhadap orang-orang yang membaca Al-Qur'an dirumah-rumah peribadatan (masjid, surau, mushalla, dan lain-lain). Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadist yang masyur lagi shahih yang berbunyi sebagai berikut: "Kepada kaum yang suka berjama'ah dirumah peribadatan, membaca Al-Qur'an secara bergiliran dan ajar mengajarkannya terhadap sesamanya, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketentraman, akan berlimpah kepada-Nya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, juga Allah akan mengingat mereka (diriwayatkan oleh MUslim dan Abu Hurairah).

Membaca Al-Qur'an, baik mengetahui artinya ataupun tidak, adalah termasuk ibadah, amal shaleh dan memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya memberi cahaya kepada keluarga rumah tangga tempat Al-ur'an itu membaca.

BAGAIMANAPUN AKU AKAN TETAP BERBUAL DENGAN MU

Aku terfikir sesuatu........
Ya Allah!Engkau Besar, aku kecil. Engkau baik, aku jahat lagi hina dan kerdil. Engkau Maha Pengampun, sedangkan aku saja yang kepala batu. Oleh itu, dengarkanlah kata-kata ku ini....

Jarang sekali aku sempat dapat berbual denganMu. Sejak dari kecil hinggalah dewasa, aku telah dididik oleh keadaan sekeliling untuk sibuk berbual dengan orang lain selain Mu.

Demi masa yang tinggal tidak seberapa lagi ni, aku telah berkata dengan diku sendiri, aku akan banyak meluangkan masaku untuk berbual dan berbincang dengan Mu.

Engkau pun tahu, aku sudah begitu lama tidak peduli terhadap Mu. Oleh itu maafkanlah aku! Jika Engkau tidak pandang aku,,,,,, pandanglah bulan Syawal yang Engkau kurniakan kepada umat Mu itu.

kali ini, aku akan berterus terang dengan Mu. Biarlah banyak orang mengatakan aku seorang yang jahat lag penipu, asalkan aku tetap berani berbual dan mengingat Mu.

Sekurang-kurangnya, ini langkah permulaan buat diriku berjalan atas jalan Mu dan agama Mu. Demi engkau ya Allah,,,,,,,,. Aku mengaku, Engkau Robbku.

Ya Allah.... Kenapa fikiran aku masih jahat? Kadang-kadang aku merasa gerem betul dengan diriku ini. Engkau tentu lebih faham tentang diriku....

Aku kadang-kadang merasa cemburu kepada orang-orang lain. Terutama sekali, orang-orang yang baik-baik! Aku lihat mereka tidak mempunyai banyak masalah mentaati suruhan Mu. Mereka keliatan tenang-tenang saja. Sedang aku,............. terpuruk melawan diri sendiri!

Ya Allah..... Apa pun yang akan berlaku kepada diri ini, Aku tetap mengaku Engkaulah Rabb ku......

Ya Allah..... Ini aku datang bercakap dengan Mu dan menulis kepada Mu...

Aku telah berjanji dengan diriku, akan terus bercakap dengan Mu diruang ini selagi diberi kesempatan.


Ibu


Wanita baik itu,,,,
Adalah Ibuku
Yang mengajarkan padaku arti hidup dan perjuangan
Dan mencontohkan padaku indahnya kesabaran dan keikhlasan
Kucoba meniti jalan hidup ini
Dengan tuntunan tangannya yang lembut
Dikala aku terjatuh, ia selalu siap membantuku
Dengan kasihnya yang tulus
Suaranya yang lembut ketika membaca Al-Qur'an
Menghantarkantidurku ke alam mimpi
Tangannya yang lembut selalu siap mendorong semanagatku
Bagiku ia dalah pahlawan
Bagiku ia adalah guru
Bagiku ia adalah bidadari

Ya Allah.....................
Terimakasih telah
Kau kirimkan
Seorang wanita mulia dihidupku
Sehingga aku tahu untuk apa aku hidup

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.............
Aku menadah kedua belah tanganku
Memanjatkan do'a
Memohon kemaafan keampunan
Menagih simpati darimu Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih
Air mata yang berderai
Membawa seribu satu maksud
Penuh dengan harapan
Meminta agar Ibuku
Dipanjangkan umur
Dimurahkan rezeki Dan dilindungi Allah SWT.
Amien

Biar Yang Lain Terkorban, Islam Jangan Digadai



Berbumbung angkasa kelabu
Lantainya bumi ratak seribu
Setiap langkah pekerjaanmu
Beronak berliku

Betapa berat mata memandang
Berat bahu memikul beban
Belum sempat menitis ke pipi
Tangisan kering sendiri

Berkali tersungkur
Pandanganmu kabur
Namun azam meneruskan hidup
Tak pernah luntur.


Harga diri bagi manusia adalah nilai dan matinya. Mestinya memilki dan mempertahankannya harta dengan darah maupun nyawa sekalipun. Harga diri tidak boleh digadai. Demi menjaga harga diri, darah dan nyawa boleh menjadi tembusannya. Begitulah tingginya nlai harga diri pada manusia. Manusia sanggup berbuat apa saja demi memlihara dan mempertahakan harga dirinya. Pertama, Harga diri atau kemulian diri bagi umat isalam ialah imannya. Kedua, ke-islamannya, yakni hukum-hukum yang lima tertegak dalam dirinya baik hukum wajib, sunnah, makruh, haram atau mubah. juga termasuk harga diri itu ialah kehormatan anak isteri, harta dan negaranya. Ketiga ialah aklhlak yang mulia yang menghiasi diri seperti jujur, ikhlas, sabar, kasih sayang, pemurah, berani, benar, tawaduk, berlapang dada, pemaaf dan lain-lain lagi.

Wanita Sholehah Akhir Zaman



Perempuan bukan dijadikan atas kepala disanjung dan dipuja. Perempuan juga bukan dijadikan dari alas kaki untuk dipijak-pijak sebagai alas kaki. Tetap perempuan dijadikan dari rusuk kiri lelaki, dekat dengan hati untuk disayang, dekat dengan tangan untuk dilindungi. Tulang rusuk kiri lelaki, bengkok sifatnya.
Menjadi tanggungjawab lelaki untuk meluruskannya. Adakah batang yang bengkok mampu menghasilkan bayangan yang lurus??? Akal perempuan setipis rambutnya, selalu mengikut perasaan ketika berbicara. Hati perempuan serapuh kaca, mudah tersentuh dengan kata-kata. Nafsu perempuan setinggi gunung, hanya keimanan mampu menghalanginya. Suara perempuan gemercik baik buluh perindu hingga menusuk, membelai di kalbu. Bicara perempuan sehalus sutera, takkan jemu ketika mendengarnya. Airmata perempuan mhal harganya, tanda kekasihnya. Kasih perempuan selembut salju, mampu membuat lelaki hilang arah tujuan.



Di sebalik tabir ada senyuman
diukir untuk suami beriman
yang mememani kehidupan.
Di sebalik tabir ada tangisan
air mata dititiskan demi cinta Ar-Rohman.

Di sebalik tabir ada amalan
yang bertunjangan keimanan
mewarnai wajah kehidupan
menuju kebahagian.

Di sebalik tabir kini bersinar
cahaya indah takkan pudar
yang menyinari kehidupan.

Di sebalik dahulu terpancar garis kelukaan
datanglah Al-Qur'an dan Sunnah
memberi ketenangan

Wanita sholehah akhir zaman
dunia bukannya idaman
cintanya hanya pada Ar-Rahman
menuju ketakwaan.

HANYA KEPADA MU MEMOHON


Wahai Yang Namanya menjadi obat, dan mengingati-Nya adalah penyembuhan , Dan ketaatan kepadan-Nya adalah kekayaan, Kasihilah orang yang modalnya pengharapan, dan senjatanya hanyalah tangisan.......

Dengan nama Allah Yang Maha pemurah lagi Maha Pegasih, Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung padaMu dari hati yang tidak khusyuk, doa yang tidak didengar, jiwa yang tidak merasa puas, dan ilmu yang tak bermanfaat. Aku memohon perlindunganMu daripada empat macam keburukan ini.

"Ya Allah! Lembutkan bagi kami pada memudahkan setiap urusan yang sukar. Maka sesungguhnya memudahkan setiap yang sukar. Maka sesungguhnya memudahkan setiap yang sukar itu amatlah mudah di sisiMu. Ya Allah! Mudahkanlah bagi kami segala urusan kami serta ketenangan hati kami, keselamatan dan kesehatan pada agama kami dan dunia kami."

"Ya Robbana, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa saudara-saudara kami yang yang telah mendahahului kami dengan mebawa iman, dan janganlah Engkau membiarkan Kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha PenYantun lagi Maha Penyanyang."

"Ya Allah, Lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku."

"Ya Allah, sesungguhnya pengampunanMU lebih aku harapkan daripada amalanku, sesungguhnya rahmatMU lebih lua dan dosaku. Ya Allah sekiranya dosaku besar disisiMu maka pengampunanMu lebih besar dan dosaku Ya Allah sekiranya aku tidak layak untuk mencapa rahmatMu layak untuk sampai kepadaku dan melapangkan aku karena ia meliputi segala sesuatu dengan rahmatMu wahai Yang Maha Pengasih."

DIbawah Telapak Kaki Ibu


Mamah,,,matahari berbisik padaku, Mamah lebih
mulia darinya!karena apa??tanyaku.
Jawabnya...karena dia hanya menerangi
dunia ini siang saja. Tapi mamah menerangi hidup anak-anak sepanjang
masa, menembusi ruang kehidupan ini sepanajang zaman.

Mamah,,, pepohon yang rindang berbisik pdaku, mamah lebih mulia darinya!karena apa?tanyaku.
Jawabnya,,,karena dia hanya meredupkan kehangatan insan yang
berteduh dibawah pepohonnya. Tapi mamah meredupkan kehangatan, hidup yang penuh pancaroba, meredakan kekusutan hati dan akal anak-anak yang mamah kasihi.

Mamah,,,,emas dan batu permata berbisik padaku mamah lebih mulia darinya!karena apa??tanyaku.
Jawabnya,,,karena ia hanya lambang kekeyaan lambang kemewahan tapi mamah adalah lambang kasih lambang sayang lambang cinta lambang kemuliaan lamabang pengorbanan sejati
anak-anaknya.

Mamah,,,,manis gula dan asin garam berbisik padaku.....Mamah lebih mulia darinya!karena apa??tanyaku.
Jawabnya,,,,karena dia hanya menambah nikmat sesuap makanan
dan lezatnya secangkir minuman. Tapi mamah mampu menawarkan bisa
kedukaan dan penderitaan melezatkan keriangan dan menambahkan kecintaan kepada kehidupan anak-anak yang mamah kasihi setiap masa dan ketika, samapai kapan jua.

Mamah,,,,angin yang bertiup berbertiup berbisik mamah
lebih muliadarinya!karena apa??tanyaku.
Jawabnya,,,,karena dia tidak mampu sepanajang masa bertiup perlahan bagi menenangkan keadaan. Karena ada waktunya ia menjadi badai dan topan merobek kesejahteraan dan kebahagiaan insan. Tapi mamah sepanjang masa meleraikan kekeusutan menenangkan jiwa anak-anakmu sesopoi bahasa bayu, menyemai rsa cinta dan sayang sejati anak-anaknya.

Mamah mulianya dirimu,, membenarkan kata2 surga itu ditelapak kaki Ibu.

Pesan2 diatas adalah pesan dari mamahku yang suka nasehatin Q.
I Love U, mam

Ajari ku Tuhan


Tuhan ya RabbKu....
Ajarilah aku untuk terus bersyukukur
bahkan sampai diriku ada dalam keadaan paling teraniaya
Ajarilah aku agar terus menjadi orang baik
bahkan ketika dunia tak sanggup lagi tersenyum.

Ajari aku Tuhan..,
Agar selalu bisa tertawa setelah menangis
agar bisa selalu bangkit setelah kejatuhan
agar bisa terus berjalan,walau arah melintang di depan sana
Agar tidak menyerah, walau hampir mati sekalipun

Ajari aku Tuhan...
Agar tidak pernah kehilangan cinta
agar tidak pernah kehilangan kepercayaan
bahwa masih ada hal-hal baik di dunia ini
yang masih patut untuk diperjuangkan

Ajari aku Tuhan....
Agar tidak menjalani hidup yang sia-sia

Keheningan


Keheningan yang q dapati malam ini

Sungguh tidak menenangkanku

Angin malam yang menyapaku malam ini

Sungguh tidak menghilangkan sepi



Karena kau hanya jadi kabut

Saat gemuruh sunyi menabik hati

Kau memilih menjadi kabut

Walau aku memintanya

Walau aku memohon padamu!



Dan kau tak pernah ada disini

Meski telah kuberikan nyawaku padamu.

Kerinduan


Nestapa karena merindukanmu
Sang kekasih hati
meninggalkan jejak di gurun
Menteskan air dilaut

Aku nestapa...takkah kau sadari?
Aku jadi ringkih.. takkah kau lihat?
Aku lantak...takkah kau kasihan?

Bagaimana kulabuhkan nestapaku?
Sauhku tak cukup menggapaimu
Tulangku tak cukup meraihmu
Bagaimana kukaitkan lantak genggamku
Debuku tak cukup menjejakmu

Wahai, gapailah nestapaku dan jadikan tawa ditaman surgawimu
Wahai, raihlah tubuku dan jadikan teman bercanda bidadaramu
Wahai, jejaklah didebuku dan biarkan kugenggam cahayamu

Aku Ingin Jadi Anak Sholehah Saja


Namanya juga sahabat. Ia pasti akan datang dan pergi pada waktu yang tak pernah bisa ditentukan oleh siapapun. Begitulah aku dengan Ani. Sahabat yang pernah mengukir sejarah pahit dimasa kecilku. Dari tangannya kepala dan keningku penuh ukiran bekas luka. Ya, ketika kecil ia sering mengakhiri canda dan ketidaksukaanya terhadap ulahku dengan melemparkan sebuah batu.

Dan aku selalu tak pernah bisa mengelak dari lemparan itu. Batu-batu yang terserang di kepalaku berbuah darah, luka, dan tangisan. Itulah akhir dari setiap kali pertemuanku dengan Ani, karena ulahnya main lempar batu itu. Tapi tetap saja kemudian aku akur kembali dan bermain lagi dengannya, meski kemudian ia melempariku lagi dengan batu. Itulah Ani dan ituah aku.

Tapi kemudian, aku tak pernah lagi bertemu dia lagi selama 6 tahun. Dan tak pernah lagi ada pertengkaran. Dan tidak pernah ada lagi canda berbuah lempar batu.

Pertengkaran dengan Ani seringkali bermulai siang hari usai shalat dhuhur. Ketika kami selalu berdebat caranya melaksanakan sembahyang. Waktu ia sembahyang menoleh ke kiri-kanan. Aku tidak setuju. Karena kata mamahku, tidak boleh menoleh kiri-kanan. Karena itu membatalkan sembahyang.

“Caranya sembayangmu salah, kalau sembayang kata mamahku tidak boleh menoleh kiri-kanan!”

“Tapi kata ibuku boleh, karena kita masih kecil” Ia membantah kritikku

“Nggak boleh, karena itu dosa.”

“Kata ibuku anak kecil belum mendapat ganjaran dosa.”

“Bohong! Semua orang pasti dapat dosa kalau salah.”

“Tapi kata ibuku tidak!”

“berarti ibumu salah!” kataku. Tentu saja ia tidak terima. Ia marah. Lalu bilang nama mamahku. Aku bilang nama Ibunya. Kami saling sebut nama ibu dengan emosi. Waktu itu bagi kami menyebut nama orang tua adalah kurang ajar.

Kian lama emosi kami makin meninggi. Lalu mulailah Ani mengambil batu dan aku sudah menebak rencananya. Aku pun lari. Bener saja. Ia kemudian melempariku, aku mencoba mengelak tapi terlambat. Batu itu melayang terlalu cepat. Dan, plethok! Kepalaku terkena batu. Seketika darah mengucur.

Saat itu aku tak bisa melihat Ani. Aku pindah rumah ke Bandung ikut keluaragaku. Aku hanya ingat saat itu aku didekati banyak orang yang menolongku. Menyeka darah dan memberiku obat.

Begitu Ani, hanyalah sahabat yang 6 tahun lalu menghiasi sebagian dari masa kecilku dari sebuah lorong, sebuah perkampungan kecil disolo.

Meski begitu aku tak merasa ada yang hilang ketika ia tidak bersamaku sebagai seorang sahabat. Aku tidak pernah merasa kehilangan sahabat meski ia jauh dariku. Sementara aku hanya di Bandung.

Aku sendiri tak tahu kabarnya dia, semenjak aku tinggal di Bandung. Aku hanya asyik dengan aktifitasku sebagai pelajar. Entahlah, aku juga tak membayangkan sepucuk surat darinya, karena memang aku tak pernah punya niat untuk mengirim surat untuknya.

Tapi ia memang sahabat masa kecilku, yang orang-orang dikampungku tak pernah lupa dengan persahabatan kami. Sehingga setiap kali aku harus pulang, menginjak kaki dikampung halamanku itu, yang disebut pertama kepadaku adalah soal persahabatan dengan Ani. Baru hal-hal lain.

Aku hanya menerimanya sebagai sebuah kenangan masa kecil. Selebihnya aku tidak menanggapinya. Sebab setiap orang itu salalu bercerita tetang Ani yang sekarang ini dapat beasiswa diluar negeri.

“Hebat bener Ani itu, tak terbayangkan kalau semasa kecilnya dengan itu ia sangat nakal dan masa bodoh bisa seberhasil itu,” kata saudaranya yang sering bertemu dengan ku dikampung setiap aku pulang. Tidak hanya saudaranya yang berbicara itu, juga Titik, Ayu, Endah, dan banyak yang lain.

“memangnya Ani kuliah diamana sekarang?” Aku pernah bertanya seperti itu, karena memang tidak tahu pasti kuliahnya Ani.

“Mosok kowe gak ngerti? Kowe lak koncone.” Kata Endah

“Orak, aku ora ngerti tenan.” Kataku meyakinkan

“Oh, tapi aku pun tidak tahu pasti ia kuliah, aku hanya mendengarnya dari orang. Banyak orang katakan kalau teman kamu itu sudah kuliah di Jepang dan mendapat baesiswa dari Pemerintah.” Kata Endah waktu tu beralasan. Karena hingga kini aku belum ketemu Ani.
***

Aku tidak punya pilihan waktu terbaik setiap kali aku mengingat kampungku itu, selalu saja rasa malas menghinggapi hasratku untuk kekampungku.

Bukan karena Ani. Tapi karena nenek dan pamanku. Mereka selalu membandingkan-bandingkan aku dengan Ani. Yang mereka sendiri tidak pernah tahu bagaimana Ani dan seperti apa dia.

“kowe nerokko Ani Kae. Ani iso entuk beasisiswa neng Jepang wis entuk ragat ko negoro” Pamanku seringkali mengatakan hal itu kepadaku, Aku tahu apa yang dimaksudkan pamanku, bahwa ia kepengen keponakanya sukses seperti Ani, tetapi kenapa Ani bisa meperlihatkan kemampuannya kepada keluarganya. Sementara aku tidak?

“Dan apa yang kamu cari dengan kuliahmu?”
Aku tidak menjawabnya. Akhir-akhir ini Pamanku tidak menyukai jurusan yang aku pilih.

***

Aku bertemu dengan Ani. Biasa saja kami bertemu dan saling bercerita. Seperti sahabat lain aku tidak menghabiskan waktu terlalu lama dengannya. Seperti biasa, dua jam aku ditanah kelahiranku, aku kembali di Surabaya tempat aku kuliah.

“Untuk apa kowe pulang?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Yang aku yakin ia pasti mengomentari jawabanku dengan kalimat yang menyudutkan aku. Aku sangat yakin. Makanya aku pergi dan meninggalkannya begitu saja tanpa alasan.

***

Aku pulang lagi tiga pekan kemudian. Aku bertemu dengan Ani. Ia sedang duduk didepan rumahku.

“Masih ingat kamu rupanya dengan kampung ini?” ia melempar pertanyaan yang aku tahu ia menyindir yang jarang pulang. Aku tidak menjawabnya kecuali dengan sebuah senyuman. Aku terus menuju rumah dan kembali beberapa saat kemudian

“Masih dikampung kamu, An?” ia tidak menjawab pertanyaanku. “lama betul kamu cuti kuliahnya?”

Ani tidak menjawab pertanyaanku. Ia mengalihkan pembicaraannya. Ia mengajakku ke masjid Al-Hikmah. Pada saat azan dhuhur sedang berkumandang.

“Kita sembahyang dulu lama kita tak sembahyang bersama! Kamu terlalu sebentar dirumah sehingga tidak banyak yang bisa aku ceritakan,” kata Ani, suaranya melemah.

Kami sembahayang, berdua menjadi jamaah dari iman yang sudah biasa sendiri di masjid. Hari tu tidak ada perdebatan. Sembahyang kami sudah teratur mengikuti imam.

Usai sembayang kami bercerita banyak. Ani bercerita tetang dirinya., tentang ia sewaktu di Jepang mengikuti program beasiswa. “Tapi sekarang dikeluarkan dari kampus. Hingga aku kembali ke kampung, gara-gara……” ia diam sejenak “aku mencuri hp teman!” katanya tertunduk.
Ia mengaku ituah sembahyang yang pertama sejak terakhir sembahyang bersamaku, semasa masih kanak-kanak dulu.

“Aku ingin jadi anak sholehah saja.” Katanya.

Aku Dan Nasibku


Hari ini usiaku bertambah lagi 1 tahun. Kalau dari pandangan mata sebagai muslimah (penganut agama Islam), maka usiaku berkurang 1 tahun dari yang Allah swt tentukan. Sekarang aku berusia 18 tahun. Alhamdulillah, karena mataku masih terbuka, nafasku masih ada untuk mengemban tugas hari ini dari sang pemberi nyawa.

Di usia ini aku ingin menulis tentang pertemuanku dengan Bahasa Jepang. Ini mungkin kesempatan yang baik untuk berbagi cerita kepada teman-teman dimana pun berada.
Mamaku bilang, garis keturunan keluarga kami tidak ada yang cenderung menguasai ilmu pasti seperti fisika, kimia dan biologi. Kebanyakan di bidang sejarah, bahasa dan ilmu diluar ilmu-ilmu pasti. Jadi mamaku merasa aku tetap harus coba ikut ujian di universitas swasta lain, jangan hanya cukup yakin bisa masuk UGM. Tapi saat itu aku tidak terlalu memusingkan kekhawatiran mama. Bila aku bisa duduk dijurusan Sains SMA, itu cukup jadi bukti kalau sebenarnya aku punya kemampuan dibidang 'eksak'.

Respon Ayahku lain lagi. Beliau adalah tipikal ayah yang percaya kepada pilihan anak-anaknya. Papa tidak pernah memaksakan kehendak, mesti jadi apa kelak. Nasehat papa kepada kami yang terus kuingat adalah, “Kamu bebas memilih jalan hidup, tapi bertanggungjawablah terhadap pilihan itu. Tugas orang tua adalah menyediakan fasilitasnya”. Maksudnya kala itu adalah,kalau aku ingin sekolah maka bersekolahnya dengan baik dan sesuai dengan isi hati. Sedangkan tugas ayah dan mama adalah menyediakan dana untuk pendidikan aku. Kata ayah lagi, “menuntut ilmu itu adalah wajib dan merupakan tanda beriman kepada Allah swt”.

Kepercayaan ayah kepada anak-anaknya yang membuat aku semakin 'besar kepala?'.Bukan salah ayah, tapi memang aku adalah tipikal anak yang 'keras hati'. Itu penilaian mama loh. Kekerasan hati inilah yang kelak menjadi bekalku menempuh hidup di Jepang. Ternyata kekerasan hatiku, keseriusan diriku belajar untuk jadi dokter, tidak cukup untuk membuktikan bahwa aku mampu lulus Ujian. Namaku tidak tertera sebagai peserta yang lulus ujian.

Semua kekerasan hatiku menjadi lelehan air mata, segukan demi segukan tangisan memenuhi isi kamarku.Kesombonganku untuk tidak mendaftar ikut ujian di universitas swasta tinggal jadi penyesalan. Aku pontang panting mendaftar ke berbagai tempat, tapi semua sudah telat. Rasanya aku adalah anak yang paling malang didunia. Harga diriku terbanting. Aku tak punya wajah untuk diperlihatkan kepada teman-teman se-SMA,teman-teman sepermaian, terutama kepada kakak dan adikku.

Mama memang benar. Aku malu hati. Hanya elusan tangan ayah dan mama di kepalaku ketika isakan tangis tak jua reda yang jadi sandaran tulang punggungku yang terasa sudah lunglai. Ayah tidak bersuara, mama tidak marah, beliau berdua tidak mengomel. Tidak mengatakan apa-apa, tapi mengajakku mencari informasi program kuliah apa saja di luar sana. Akhirnya aku memilih ilmu manajemen keuangan, bahasa inggris dan akuntansi di salah satu lembaga pendidikan diploma satu.Inilah awal sayap di punggungku berkembang.

Satu tahun ku lalui dengan menyenangkan. Isi kelasku hanya 12 orang.Salah satu dari temanku adalah anak seorang pengusaha kaya di Indonesia. Siapa yang menyangka, bahwa ilmu-ilmu ini akan muncul kembali mewarnai kehidupanku kelak. Menjelang lulus, mama bertanya lagi...berikutnya aku mau bagaimana?.Aku masih ingin kuliah, karena dengan ilmu yang sedang kutempuh itu pasti tidak cukup untuk mencari kerja. Jadi aku tidak mau 'setengah-setengah'. Berilmu pun tidak, mau coba-coba ujian yang sama. Hidup itu harus punya tujuan.

Akhirnya aku memutuskan untuk memilih jurusan bahasa. Mungkin teori mama tentang kemampuan keluargaku harus dipertimbangkan. Lagi pula setelah melewati 3/4 tahun di program diploma I itu, aku baru sadar dan punya 'feeling' bahwa dunia bahasa akan lebih menyenangkan.

'Mau jadi apa nanti dengan belajar Bahasa Jepang?'. Lagi-lagi mama gelisah denganpilihanku. Tapi, lagi-lagi aku merasa yakin dengan pilihanku. Alasannya gampang,yakni rasanya keren kalau membaca buku bertuliskan huruf aneh di angkot. Kalau bacabuku bertuliskan 'how are you', 'my name is...' di dalam angkot, lalu orang yang duduk di sebelah melongok buku yang kubaca, pasti tidak ada kesan hebat. Nah, sekarang bayangkan kalau yang aku baca itu buku dengan huruf-huruf yang tidak bisa dibaca oleh orang lain.Pasti orang-orang akan terkesan!!. Hehehehhe....membayangkannya saja sudah membuatku melayang-layang seperti burung. Hidungku sudah mengembang...
Dan ada!!...kutunjukkan kepada mama, sambil merasa sayap di punggungku berkibar-kibar mengangkat tubuhku dari pijakan bumi. Respon seluruh keluarga tidaklah buruk.Tapi juga tidak terlalu menggembirakan. Aku yakin semuanya berusaha sensitif dengan kegembiraanku. Padahal mungkin biasa-biasa aja. Mungkin di kepala mama, adalah bagaimana setelah lulus aku nanti. Kala itu Bahasa Jepang tidak terlalu 'bergema' di tanah air. Pilihanku tidak salah. Belajar Bahasa Jepang itu menarik. Menarik sekali. Kalau di diploma tiga tidak terlalu belajar ke-sastra-an, tapi lebih ke ilmu praktis. Buat aku dan teman-teman yang belajar Bahasa Jepang, adalah kesempatan untuk melatih kosa kata yang kamipelajari. Waktu itu drama Jepang tidak di-dubbing ke Bahasa Indonesia-seperti sekarang.Di kampusku sendiri, mahasiswa jurusan Bahasa Jepang jadi pusat perhatian.

Sekarang aku begitu merasakan manfaat dari ilmu yang kukuasai. Bahwa ilmu bahasa asing yang kusandang bisa menjadi 'jendela' untuk melihat dunia luar.Aku bisa datang ke Jepang, bisa beradaptasi dengan orang Jepang, bisa menjadi sumber penghasilan,bahkan sudah bisa mengajar pula untuk orang lain.

Tapi untuk menguasai sebuah ilmu bahasa seperti yang aku miliki saat ini bukanlah pekerjaan mudah.Sangat menguras tenaga dan pikiran. Juga memerlukan waktu yang tidak sedikit untuk panen.Tak terasa sudah 13 tahun lebih aku berkecimpung dengan Bahasa Jepang. Banyak 'hasil panen' yang kunikmati saat ini. Mamaku pun sekarang menjadi fans setiaku apabila ada anak muda yang mengutarakan niatnya ingin belajar Bahasa Jepang kepadaku. 'Biar bisa seperti Teh Novi', begitu mama selalu membanggakan diriku. Kunci untuk menguasai bahasa asing adalah latihan, latihan, latihan. Selain itu kalau memungkinkan adalah belajar ke luar negeri, tempat asal mula bahasa asing yang kita pelajari itu. Mungkin seumur hidup aku akan berlatih untuk mengasah ilmuku ini lewat berbagai cara. Aku ingin ilmuku tidak berhenti di sini.Aku ingin bisa menyebarkan ilmu yang merupakan amanah dari Allah swt ini.Agar banyak generasi muda di tanah air bisa melihat dunia lain seperti yang aku alami sekarang.

Belajar sebuah ilmu bahasa bukanlah pilihan yang buruk. Percayalah, bahwa ilmu bahasa, apapun itu jenisnya adalah penting buat hidup kita.Orang lain sering cemburu dengan kemampuan bahasa Jepangku. Berbahagialah kaum muda yang memiliki kemampuan berbahasa asing, dan juga yang berkecimpung dalam dunia editing di tanah air. Begitu banyak buku-buku asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa kita lalu di edit dengan baik. Semua itu tak lain agar siapa pun bisa mengambil makna yang tersurat dalam kalimat-kalimat asing.

Aku masih perlu banyak belajar untuk menguasai Bahasa Jepang. Karena bagiku 'Bahasa adalah Jendela Dunia'.




Kisah ini diambil dari perjuangan kakakku