WELCOME TO BLOG

Khastury_chains Islam

Selamat membaca ilmu Islam


cerita pangalaman

PEREMPUAN YANG MENANGIS

Kau ingkari luka-luka di hatimu
Berjuta senyum kau tebar lewat matamu
Meski belati telah menusuk. Merajam
Semua tangis kau simpan dalam diam

Kau sembunyikan duka-duka didadamu
Tak kau ceritakan isak derita yang membelenggu
Segala ragu kau bunuh dalam dekapan
Maka hanyutlah semua mimpi
Mimpimu yang kesakitan

Duhai perempuan yang menangis
Masih ingatkah kau pada kesetian
Senja yang tak habis –habis

DIALAG HATI

Sungguh hati yang aneh
Entah kenapa ada rasa sakit yang tak terdefinisi
Meski hari begitu indah
Meski ada bayak hal-hal lucu terjadi
Sungguh aneh
Bagaimana bisa
Hati menjadi begitu liar
Melanglang buana bagaikan ialah sang raja
Seandainya bisa
Ingin sekali kurangkuh ia
Menariknya agar duduk diam
Dan menceritakan kisahnya

Hatiku sayang
Bagaimana kabarmu
Maukah kau duduk bersamaku
Dan mengabarkan padaku
Jalan jauh yang telah kau tempuh
Warna-warni yang melukismu sekarang

Seberapa banyak air mata yang telah
Kau tumpahkan
Seberapa banyak rindu yang telah kau tahan.

Hatiku sayang
Ingin sekali kurengkuh engkau
Adamu begitu rapuh
Namun juga amat pesona

WAJAH DALAM CERMIN

Dari gerbang musim, aku menyapa mimpimu
Berlayar menuju negeri tak berpenjuru, dengan
Warna-warna surga berlepasan di udara

Kubayangkan sebuah rongga cahaya
Membekukan hujan. Sementara tarian ilalang
Menguras air mata dan menjelmakan
Bilur-bilur ungu. Aku kehilangan cahaya rambutmu

Sayup dari langit-langit matamu
Kudengar keicik gerimis.
Tapi dalam jarak antara musim
Aku larung matahari, menuju badai.

Begitu enggan kau pulangkan nafasku, hingga
Tak kubaca isyarat kemarau
Yang tiba di ranjaku. Malam ini

ORANG TUA

Warna-warna senja
Semakin menghitam di matamu
Kau tak lagi melihat
Bagaimana air mengalir
Bagaimana indahnya alam raya

Kau sudah tua, ternyata
Seringkali kudapati kau
Menatap senja disetiap waktumu
Adakah kau ingat
Bagaimana dahulu kau diajarkan
Cara bersyukur dengan rendah hati

Keangkuhanmu semakin menua
Karena kau sadar kini
Usiamu kian senja
Seperti warna-warna senja hari

MALAM

Ia sendiri saja malam ini, memenuhi janji.
Duduk dalam kamar, menghadap hamparan buku.
Membiarkan lagu-lagu merambati masa lalu.
Ia biarkan pula dingin yang menyusup tubuh.
Menusuk sunsum terdalam,
Hingga menyalahkan waktu menggarisbawahi nama.
Ia tanam janji langit sepanjang daging tulang,
Tak sekedar mengecup kenangan.

Syahadahpun darah.
Mengenang januari tumbuh sekaligus luruh,
Bagai dedaunan angsana pinggir jalan.
Lalu pebruari, Maret dan April, bulan lalu hingga November,
Tersodor dalam semangkuk aroma bunga rahasia,
Mencumbu lapar manusianya.
Tawa dan airmata, luka dan rangkaian bunga ia bangkai dalam halaman batin.
Dimana ia sujudkan senantiasa siang malam doa dan harapan.

Hening malam pun lain saat lewat genting kaca
Cahaya bula menumbuknya tiba-tiba, juga angin.
Kini cahaya tegak lurus atas meja dimana selembar kertas tergolek disana.
Lalu perlahan ia tuliskan dengan tinta bukan hitam sebuah bilangan kesadaran.